Bisnis Properti 2016, Segmentasi Diuji

IMG_7971

Solobaru – Bisnis properti di tahun ini diyakini bakal semakin bergeliat meski punya tantangan. Selain pemerintah sedang menggalakkan program satu juta unit rumah, kondisi ekonomi juga dinilai mulai membaik. Di sisi lain, pengembang dengan segmen menengah ke atas pun meyakini pasarnya tidak terganggu lantaran memilki segmentasi tersendiri.

PT Pondok Solo Permai (PSP), salah satu pengembang kawakan di kawasan Solo Baru optimis program rumah bersubsidi satu juta unit rumah yang sedang digenjot pemerintah tidak akan menggangu pengembang yang bermain di segmen menengah ke atas.

“2016 memang untuk rumah subsidi. Rumah kelas menengah keatas ini tren memang tidak begitu cepat karena pemerintah sedang meluncurkan rumah subsidi. Ada dampaknya, tetapi tidak signifikan karena kita sudah punya pasar sendiri,” kata Manajer Umum dan Personalia PT PSP, Ato Priyatno saat ditemui Timlomagz, belum lama ini.

Menurut Ato, faktor yang lebih berpengaruh bagi pengembang menengah ke atas adalah kondisi ekomomi secara nasional. Jika kondisi ekonomi nasional baik, secara otomatis daya beli masyarakat akan terdongkrak.

PT PSP sendiri, lanjut Ato, selama ini memang membidik segmentasi premium yakni tipe rumah 65 dengan luas tanah 150 m2 hingga tipe 345 dengan luas tanah 350 m2. Kisaran harganya mulai Rp 700 juta untuk tipe 65 dan Rp 4,5 miliar untuk rumah tipe 345.

“Kenapa (segmen kami) menengah ke atas karena disesuaikan dengan lokasinya. Orang milih produk properti yang paling utama dijadikan tolak ukur adalah lokasinya. Lahan yang kita punya memang dilokasi-lokasi premium. Ibaratnya di ring satu, sentralnya Solo Baru,” terang dia.

Guna memenangkan persiangan dengan kompetitor sesama pemain kelas menengah ke atas, akhir-akhir ini PT PSP melakukan menerapkan strategi baru bagi penjualan yakni dengan sistem pesan bangun. Sistem ini dinilai lebih efisien karena pengembang tidak harus mengeluarkan biaya perawatan jika rumah belum terjual. Semula, PT PSP menggunakan sistem ready stock.

“Kalau ready stock, dalam kurun waktu tertentu kan belum tentu habis produk kita. Sementara produk ini kan harus selalu siap saat calon konsumen melihat kondisi. Ini butuh biaya maintenance. Ini yang jadi satu pertimbangan,” ungkap dia.

Selain lebih efisien, sistem pesan bangun juga menjawab kepuasan konsumen. Melaui model pesan bangun ini, customer bisa mengajukan sedikit perubahan lay out pada rumah yang hendak dibangun. Sepanjang perubahan lay out itu tetap sesuai dengan standar tipe yang sudah ditetapkan.

Ditanya target penjualan yang ditetapkan tahun ini, Ato menarget bisa menjual dua klaster yang terdiri 20 unit. Harapannya 20 unit itu habis dalam empat tahun. Sementara di 2015, PT PSP bisa menjual 11 unit sejak 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published.